Tentang

Manusia hidup dengan pemikirannya yang terus berkembang. Berbagai upaya dilakukan manusia supaya buah pemikiran dan ilmu pengetahuannya tetap lestari. Pada masa pra aksara, manusia melestarikan pengetahuannya secara lisan. Dituturkan secara verbal turun temurun dari keluarga, masyarakat, atau pemuka adat. Sebagai hasilnya munculah cerita rakyat, mitologi, dongeng, yang umumnya berisi tentang nilai moral, tradisi, dan kepercayaan.

Sejarah dimulai ketika manusia mengenal aksara. Ada banyak media yang digunakan untuk menuturkan pengetahuan lewat tulisan. Dua ribu tahun sebelum Masehi, bangsa Mesopotamia menggunakan tanah liat berbentuk tablet untuk menulis. Sedangkan bangsa Mesir menggunakan gulungan papirus sebagai medianya. Baru pada tahun 200 SM kertas lahir dari tangan seorang bangsa Cina bernama Tsai Lun. Penemuan kertas di negeri tirai bambu dan persebarannya ke wilayah Eropa diyakini sebagai titik lahirnya buku dengan bentuk seperti saat ini.

Buku hadir bak sebuah simbol intelektualitas. Di masa lalu, salah satu indikator sebuah kota pusat peradaban adalah adanya perpustakaan dengan jumlah koleksi buku yang besar. Maka tidak heran apabila pembakaran perpustakaan pada masa perang dilakukan sebagai salah satu upaya memusnahkan peradaban manusia. Sebut saja pemusnahan Bayt Al Hikma atau The House of Wisdom di Baghdad oleh tentara Mongol pada abad ke-13.

Pemusnahan buku atau librisida adalah bentuk kezaliman sebab ia turut andil dalam kemunduran suatu peradaban. Ratusan tahun lalu belum ada teknologi back-up yang mampu mengubah sumber literatur ke dalam bentuk digital. Maka, mau mencari ke mana lagi apabila sumber literatur dalam bentuk buku telah musnah dilalap si jago merah?

Bagi saya pribadi, buku bukan hanya sekedar sumber pengetahuan. Namun juga teman setia yang bisa hadir kapanpun tanpa harus bergantung kepada baterai atau sinyal. Buku pula yang mampu membuat saya menghidupkan panggung teater dalam kepala saya sendiri dengan bebas.

Manusia menulis dalam bentuk buku supaya apa yang ia ketahui tidak lenyap. Dengan menganut tujuan yang sama pula, blog ini dibuat supaya apa yang saya pikirkan tentang apa yang saya baca tidak lenyap begitu saja.

Untuk kontak lebih lanjut hubungi saya di saras.shanti@gmail.com.

– Sarashanti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s