(G)astrofisika

Waktu kuliah sarjana dulu ada satu istilah yang sering digunakan ketika sudah mencapai titik terjenuh saat belajar atau mengerjakan tugas: saturasi. Secara umum saturasi merupakan suatu kondisi di mana sebuah sistem tidak bisa lagi menyerap atau ditambahkan sesuatu. Jadi kalau sudah mabok sama tugas dan enggak sanggup mikir, sering kali keluar ungkapan: anjir gue udah saturasi nih!

Ungkapan ini masih sering muncul saat sekarang gue kuliah pasca sarjana. Adalah sebuah cobaan yang amat berat ketika gue harus bisa lagi menyelesaikan solusi persamaan Einstein setelah tiga tahun lulus meninggalkan bangku kuliah. Seringkali kalau sudah berada di titik saturasi gue bertanya-tanya, kenapaaaa dulu gue enggak sekolah masak aja ya Allah.

Dulu gue beranggapan bahwa ketertarikan gue akan fisika dan kesenangan gue dengan makan dan memasak tidak bisa dipersatukan.  Ternyata gue salah. Kedua hal tersebut dijembatani dengan adanya disiplin ilmu berjudul gastronomi molekular. Hore! Terima kasih kepada  Hervé This dan Nicholas Kurti yang telah mengeksplor sains dibalik masak memasak.

Gastronomi molekular kurang lebih menjelaskan proses fisis yang berlangsung pada suatu makanan selama mengalami proses pematangan dan apa pengaruhnya kepada kualitas, rasa, dan tubuh manusia. Menarik ya. Disiplin ilmu ini juga dikenal dengan istilah gastrofisika. Yaa kurang lebih posisinya setara dengan astrofisika yang menjelaskan proses fisis dari fenomena astronomi. Hehe.

Baru-baru ini rilis buku berjudul Gastrophysics: The New Science of Eating. Sepintas pasti kita akan mengira bahwa buku ini menjelaskan proses fisis dari apa yang kita makan selayaknya definisi gastrofisika.

image

Namun coba kesampingkan dulu pemikiran tersebut karena ternyata gastrophysics dalam buku ini merupakan gabungan dari istilah gastronomy dan psycophysics. Alih alih menjelaskan proses fisis sebuah bahan makanan dari mentah hingga matang, Gastrophysics: The New Science of Eating yang ditulis oleh seorang psikolog Inggris bernama Charles Spence lebih banyak menjelaskan fenomena psikologis manusia dalam makan memakan.

Contohnya seperti kenapa manusia cenderung makan lebih lambat ketika restoran bersangkutan memutarkan musik klasik. Kenapa rasa makanan bisa terasa lebih aneh jika dimakan di atas pesawat. Kenapa makanan yang disajikan di atas piring putih terasa lebih kaya rasa ketimbang disajikan di atas piring hitam. Bagaimana persepsi rasa manusia bisa berubah dengan kondisi lingkungan dan bagaimana makanan disajikan.

Jadi sekali lagi diperingatkan bahwa enggak akan ada penjelasan fisika dalam buku ini. Meski demikian rasanya masih cukup menarik untuk dibaca ya.

*Marked as to read*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s