Bodoh Dulu, Pintar Kemudian

Judul buku dari penerbit indie yang saya masukkan dalam Tantangan Membaca 2017 bukan buku satu ini memang. Namun saya sudah terlanjur penasaran dengan judulnya yang sarkas dan menyentil: Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Buku karangan Rusdi Mathari ini tidak sengaja saya temukan di linimasa akun Instagram milik bukumojok. Dalam postingannya dikutip salah satu kalimat dalam buku tersebut yang begitu menohok.

Photo 4-30-17, 11 29 15 AM

“Persoalannya, bagaimana kamu akan mengenali Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah. Sedekahmu masih kautulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kaugunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya…”

Saya masih clueless buku ini tentang apa hingga saya menemukannya di Kineruku. Di bagian belakang buku ini tertulis kategorinya: agama. Di bawah tulisan judul buku tertera subjudul yang lebih menjelaskan: Kisah Sufi dari Madura.

Enggak pernah terpikir sebelumnya kalau suatu hari saya bakal beli dan baca buku sufi. Sufi dalam benak saya terasa begitu berat. Padahal pada hakekatnya ia setara dengan filsafat atau tasawuf dalam terminologi ajaran Islam. Keberadaan sufi dan ilmu tasawuf ini banyak diperdebatkan juga ternyata. Namun intisari dan tujuan ilmu tasawuf ini ada baiknya juga, yaitu menyucikan jiwa untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Sederhananya, dalam tasawuf banyak dibahas falsafah dan alasan dari interaksi kita kepada tuhan lewat ritual ibadah.

Terdengar berat ya. Tenang, dalam buku ini segala falsafah itu dijelaskan dengan amat ringan lewat tokoh utama bernama Cak Dlahom. Di Desa Ndusel ia dianggap orang sinting bahkan gila karena seringkali melakukan hal-hal aneh. Namun dibalik kelakuan aneh itu ada alasan filosofis yang kalau dipikir-pikir, eh benar juga. Beruntung ada Mat Piti yang kuat menghadapi Cak Dlahom. Dengan sabar ia menyudahi segala kelakuan aneh Cak Dlahom dan kerap menanyakan alasan dari perbuatan tersebut. Hingga terucaplah berbagai pesan filosofis antara interaksi manusia dan tuhannya yang disampaikan lewat dialog Cak Dlahom dan Mat Piti.

Salah satu kelakuan aneh Cak Dlahom adalah ia mengaku diberhentikan oleh sebuah batu ketika sedang berjalan. Berhentinya Cak Dlahom di tengah jalan cukup menyulitkan karena menghambat gerak anggota rombongan lainnya yang sedang menuju kota. Saat itu ia mengaku diajak berdialog dengan si batu. Dalam dialognya batu mengaku iri dengan manusia yang bisa jalan-jalan sedangkan ia hanya terpantek untuk menjaga sungai. Lalu Cak Dlahom menyuruh si batu untuk menjadi manusia saja. Kemudian batu menjawab,

“Maafkan aku manusia, aku tak mampu jadi manusia. Aku tak sanggup. Aku memang batu, tapi aku kalah keras dibanding hatimu.”

Dari dialog virtualnya itu Cak Dlahom hendak berpesan bahwa batu itu konsisten dan istikamah sebagai batu. Tidak seperti manusia yang tidak konsisten karena bahkan hatinya bisa berubah menjadi keras seperti batu. Mat Piti yang saat itu sedang bersama Cak Dlahom bertanya kenapa hati manusia bisa menjadi keras. Lalu apa jawaban Cak Dlahom?

“Karena sering berdusta dan tidak amanah. Pendendam dan jarang meminta maaf. Dengki dan kikir.”

Kisah Cak Dlahom dan dialognya dengan si batu hanya satu dari sekian cerita pendek dalam Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Buku ini merupakan kumpulan cerita yang sebelumnya telah diterbitkan di Mojok.co selama bulan Ramdhan. Sebagian besar kisah terinspirasi dari cerita yang disampaikan tokoh sufi kontemporer bernama Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim.

Menarik karena Mati Piti, para warga desa, dan juga pembaca akan belajar banyak hal dari wong gendeng bernama Cak Dlahom. Pertanyaan yang diajukan sederhana sekali sebetulnya, seperti kenapa orang Islam diwajibkan berpuasa? kenapa wayang bisa menganalogikan manusia dalam melakoni hidup? kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Dan masih banyak lagi pertanyaan menyentil yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya namun memiliki jawaban yang menohok jika ditelaah lebih lanjut.

Cak Dlahom tidak pernah menganggap dirinya paham agama meskipun pernah mengenyam pendidikan pesantren. Ia selalu merasa banyak memiliki  kekurangan, bodoh, dan penuh dosa. Namun dari situlah muncul pemikiran dan petuah bijak. Hal sebaliknya akan terjadi jika seorang manusia sudah merasa pintar. Orang seperti ini sudah merasa memiliki ilmu yang cukup sehingga enggan menggali lagi soal kebenaran. Padahal ilmu yang dikuasai manusia hanyalah setetes air di lautan. Sejatinya semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin ia sadar bahwa ia tidak mengetahui apa-apa. Itulah yang membuatnya terus belajar menggali ilmu. Maka betul seharusnya seseorang merasa bodoh terlebih dahulu supaya pintar.

Advertisements

2 thoughts on “Bodoh Dulu, Pintar Kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s